|
MODEL MUNDELL-FLEMING
Dalam buku Muana Nanga (2001;205). Model Mundell-Fleming
(Mundell-Fleming model) sesuai namanya di perkenalkan atau dikembangkan oleh
Robert Mundell (1962,1963) dan Marcus Fleming (1962), dan merupakan versi
model IS-LM untuk perekonomian terbuka (open economy). Kontribusi utama kedua
ahli tersebut adalah karena mereka memasukkan pergerakan model antar negara
(international capital movement) kedalam model makroekonomi formal yang di
dasarkan atas kerangka IS-LM dari Keynesian. Tulisan-tulisan kedua ahli
ekonomi ini memiliki sejumlah implikasi pentingmenyangkut ke efektifan
kebijakan fiscal dan moneter (effectiveness of fiscal and monetary policy)
dalam menciptakan keseimbangan internal maupun eksternal (internal balance and
external balance).
Baik model IS-LM maupun model Mundell-Fleming menekankan interaksi di antara
pasar barang dan pasar uang. Selain itu, kedua model tersebut mengasunsikan
bahwa tingkat harga adalah tetap (fixed) dan menunjukkan faktor apa yang
menyebabkan fluktuasi jangka pendek di dalam pendapatan agregat (atau
pergeseran di dalam permintaan agregat). Perbedaan yang utama di antara kedua
model tersebut adalaah terletak pada asumsi mereka menyangkut perekonomian,
di mana dalam model IS-LM perekonomian di asumsikan sebagai perekonomian
tertutup (closed economy), sebaliknya dalam model Mundell-Fleming di
asumsikan sebagai perekonomian terbuka (open economy). Model
Mundell-Fleming mengasumsikan perekonomian yang di telaah sebagai perekonomian
kecilyang terbuka dengan mobilitas modal sempurna (small open economy with
perfect capital mobility). Kebijakan makoekonomi dalam konteks perekonomian
terbuka (open economy), khususnya dalam kaitan dengan upaya mengoreksi
ketidakseimbangan dalam neraca penbayaran, sering kali di pilih dalam dua
jenis atau macam yaitu expenditure-changing policies dan
expenditure-switching policies. Adapun yang di maksud dengan kebijakan “
expenditure-changing” adalah kebijakan yang mencakup kebijakan fiscal dan
moneter, yang di tujukan untuk mempengaruhi tingkat permintaan agregat
(agregate demand atau AD) atau absorpsi dalam negeri (domestic absorption
atau DA) yang terdiri atas pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran investasi
(I) , dan pengeluaran pemerintah (G) di dalam perekonomian.S edangkan yang di
maksud dengan “expenditure-switching” adalah kebijakan yang mencakup
depaluasi dan repaluasi, yang di tujukan untuk mengalihkan (to switch)
pengeluaran dari suatu negeri dari barang luar negeri ke barang dalam negeri
atau barang dalam negeri ke barang luar negeri.
Model Mundell-Fleming menunjukka bahwa efek dari hampir setiap kebijakan
ekonomi (economy policy) pada sebuah “ small open economy” bergantung pada
regim atau ssistem nilai tukar (exchange rates)yang di anut oleh suatu
perekonomian, artinya apakah regim nilai tukar tetap (fixed exchange rate
regime) ataukah regim nilai tukar fleksibel (flexible exchange rate regime ).
Dengan perkataan lain, keeftifan dari kebijakan fiscal dan moneter dalam
mempengaruhi pendapatan agregat bergantung pada regim nilai tukar. Di bawah
regim nilai tukar mengambang atau fleksibel (floating or flexibel exchange
rate regime), hanya kebijakan fiscal yang dapat mempengsruh pendapatan
Secara umum, sistem atau regim nilai tukar dapat di bedakan kedalam 2 ekstrim
sistem, yaitu;
Sistem nilai tukar fleksibel atau mengambang
(flexible or floating exchange rate system), yaitu suatu sistem dimana
penentuan tukar atau kurs (exchange rates) di serahkan kepada mekanisme
pasar, yaitu oleh kekuatan penawaran (supply) dan permintaan (demand) di
dalam pasar valuta asing (foreign exchange market) kalau penentuan kurs atau
nilai tukar mata uang itu, sama sekali tanpa tangan pemerintah artinya
benar-benar mengambang secara bebas (freely floating), maka sistem nilai
tukar itu di namakan “ clean-float system “. Tetapi kalau penentuan nilai
tukar atau kurs di bawah regim nilai tukar fleksibeel terdapat campur tangan
pemerintah, maka sistem nilai tukar yang demikian di kenal dengan istilah “
dirty-float system”, dan inilah sebenarnya yang sering di namakan sebagai
sistem nilai tukar mengambang terkendali.
Sistem nilai tukar tetap (fixed-exchange rate
system), yaitu sistem di nama kurs atau nilai tukar mata uang itu di tetapkan
(fixed) atau di patok (pegged) oleh pemerintah atau bank sentral sebagai
otoritas moneter didalam suatu negara, sehingga kadang-kadang sistem nilai
tukar yang demikian juga sering di sebut dengan istilah pegged-exchange
rate system .
KURS MENGAMBANG
Perekonomian terbuka dengan kurs mengambang
Dalam buku N.Gregory Mankiw (2005;309).Kurs mengambang adalah bahwa
kurs mengambang membolehkan kebijakan moneter digunakan untuk tujuan
lain. Sebelum menganalisis dampak kebijakan dalam perekonomian terbuka,
kita harus menspesifikasi sistem moneter internasional dimana negara
tersebut memilih untuk beroprasi. Kita mulai dengan sistem relefan dengan
sebagian besar perekonomian dewasa ini ; kurs mengambang (floating exchange
rates). Di bawah kurs mengambang, kurs di biarkan berfluktuasi dengan bebas
untuk menanggapi kondisi perekonomian yang sedang berubah.
Kebijakan
Fiskal
Perhatikanlah
bahwa kebijakan fiskal memiliki dampak yang sangat berbeda dalam perekonomian
terbuka kecil di bandingkan dalam perekonomian tertutup. Pada model IS-LM
perekonomian tertutup, ekspansi fiskal meningkatkan pendapatan, sedangkan
dalam perekonomian terbuka kecil dengan kurs mengambang, expansi fiskal tidak
mengubah pendapatan. Mengapa? Dalam perekonomian tertutup, ketika pendapatan
naik, tingkat bunga naik, tingkat bunga naik, karena pendapatan yang lebih
tinggi meningkatkan pendapatan terhadap uang. Hal ani mustahil dalam
perekonomian terbuka kecil: begitu tingkat bunga berusaha naik melebihi
tingkat bunga dunia r*, modal mengalir dari luar negeri. Aliran
masuk modal ini mendongkrak permintaan terhadap mata uang dalam negeri di
pasar valuta asing, sehingga meningkatkan nilai mata uang domestik. Apresiasi
kurs membuat mata uang domestik relatif mahal terhaap produk asing, dan
ini mengurangi ekspor neto. Penurunan ekspor neto mengoffset dampak kebijakan
fiskal ekspansioner terhadap pendapatan.
Mengapa
penurunan ekspor neto begitu besar menjadikan kebijakan fiskal tidak mampu
mempengaruhi pendapatan? Untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikanlah
persamaan yang menggambarkan pasar uang :
M/P = L(r, Y).
Dalam perekonomian tertutup dan perekonomian terbuka, jumlah keseimbangan
uang riil yang di tawarkan M/P adalah tetap, dan jumlah yang di minta
(ditentukan oleh r dan Y) harus sama deengan penawaran tetap
ini. Dalam perekonomian tertutup, ekspansi fiskal menyebabkan tingkat bunga
ekuilibrium naik. Kenaikan tingkat bunga ini (yang menurunkan jumlah uang
yang diminta). Sebaliknya, dalam perekonomian terbuka kecil, r tetap
pada r*, sehingga ada hanya satu tingkat pendapatan yang
bisa memenuhi persamaan ini, dan tingkat pendapatan ini tidak berubah ketika
kebijakan fiskal berubah. Jadi, ketika pemerintah meningkatkan pengeluaran
atau memotong pajak, apresiasi kurs dan penurunan ekspor neto harus
cukup besar untuk mengoffset sepenuhnya dampak ekspansif normal dari
kebijakan tersebut terhadap pendapatan.
Kebijakan Moneter
Sekarang anggaplah bank sentral meningkatkan jumlah uang beredar. Karrena
tingkat harga di asumsikan tetap, maka kenaikan jumlah uang beredar berarti
kenaikan dalam keseimbangang uang riil.
Meskipun kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan dalam
perekonomian terbuka, sebagaimana dalam perekonomian tertutup, mekanisme
transmisi moneternya brbeda. Ingatlah bahwa dalam perekomonian tertutup
kenaikan jumlah uang beredarmeningkatkan pengeluaran karena nenurunkan
tingkat bunga dan mendorong investasi. Begitu kenaikan jumlah beredar menekan
tingkat bunga domestik, modal mengalir keluar dari perekonomian karrena
investor mencari pengembalian yang lebih tinggi di tempat lain. Aliran keluar
modal ini melindungi tingkat bunga domestik agar tidak turun. Selain itu,
karena aliran keluar modal meningkatkan penawaran mata uang domestik di pasar
valuta aing, kurs mengalami depresiasi. Penurunan kurs membuat barang-barang
domestik relatif murah terhadap barang-barang luar negeri dan meningkatkan
ekspor neto. Jadi, ddalam perekonomian terbuka kecil, kebijakan moneter
mempengaruhi pendapatan dengan mengubah kurs, bukan tingkat bunga.
Kebijakan Perdagangan
Anggaplah bahwa pemerintah menurunkan permintaan
terhadap barang-barang impor dengan memberlakukan kota impor atau tarif untuk
barabg impor. Apa yang terjadi terhadap pendapatan agregat dan kurs ?
Karena ekspor neto sama dengan ekspor minus impor, maka penurunan impor berarti
kenaikan ekspor neto. Yaitu, kurva ekspor neto bergeser ke kanan. Pergeseran
dalam kurva ekspor neto ini meningkatkan pengeluaran yang di rencanakan dan
menggeser kurva IS* ke kanan. Karena kurva LM* adalah
vertikal, maka hambatan perdagangan kurs tetapi tidak mempengaruhi
pendapatan.
Sering tujuan kebijakan untuk menghambat perdagangan adalah untuk
merubah neraca perdagangan NX. Kesimpulan yang sama di berikan dalam model
Mundell-Fleming dengan kurs mengambang. Ingatlah bahwa
NX(e) = Y - C(Y-T) – I(r*) – G.
Karena tidak mempengaruhi pendapatan, komsumsi,
investasi, atau belanja pemerintah, hambatan perdagangan tidak mempengaruhi
neraca perdagangan. Meskipun pergeseran dalam ekspor-ekspor cenderung
meningkatkan Nxikan kurs, kenaikan kurs mengurangi NX dengan jumlah yang
sama.
KURS TETAP
Perekonomian terbuka kecil dengan kurs tetap
Sekarang kita beralih pada eejnis sistem kurs yang
kedua : kurs tetap (fixed exchange Rates). Pada tahun 1950-an, sebagian besar
perekonomian dunia termasuk Amerika Serikat, beroprasi dengan sistm
Brektom-Woods, sistem moneter i nternasional yang di sepakati seedbagian
beesar negara untuk menetapkan nilai kurs. Dunia membatalkan sistem ini
pada awal tahun 1970-an, dan kurs dibiarkan mengambang. Beberapa negara Eropa
kemudian memberlakukan kembali sistem kurs di antara mereka, dan beeberapa
ekonom menganjurkan kembali kee sistem kurs tetap. Dalam bagian ini kita
bahas bagaaimana sisten kurs tetap bekerja, dan kita kita kaji pengaruh
kebijakan ekonomi terhadap perekonomian kurs tetap.
Bagaimana Sistem Kurs Tetap Bekerja
Dengan sistem kurs tetap , bank sentral tiap membeli atau menjual mata uang
domestik untuk mata uang asing pada harga yang telah di tetapkan sebelumnya.
Anggaplah, misalnya Fed mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan kurs tetap
pada 100 Yen per Dolar. Fed aakan siap memberi $1 untuk ditukar dengan 100
yen atau memberi 100 yen untuk ditukar dengan $1. Untuk menjalankan
kebijakan ini, Fed membutuhkan cadangan dolar (yang bisa dicetak) dan
cadangan yen (yang harus dibeli sebelumnya).
Kurs tetap mengarahkan kebijakan moneter suatu negara pada tujuan
tunggal, yaitu mempertahankan kurs pada tingkat yang telah di umumkan. Dengan
kata lain, esensi dari sistem kurs tetap adalah komitmen bank sentral untuk
membiarkan jumlah uang beredar menyesuaikan berapa pun kurs yang
menjamin kurs ekuilibrium sama dengan kurs yang diumumkan. Selain itu, selama
bank sentral siap membeli atau menjual mata uang asing pada kurs tetap, jumlah
uang beredar menyesuaikan secara otomatis pada tingkat yang diperlukan.
Untuk melihat bagaimana penetapan kurs menentukan jumlah uang yang beredaar,
perhatikanlah contoh berikut. Anggaplah Fed mengumumkan akan memberlakukan
kurs tetap pada 100 yen per dolar, tetapi dalam ekuilibrium dengan jumlah
uang yang beredar pada saat ini, kurs adalah 150 yen per dolar. Lihatlah
bahwa ada peluang laba : pialang bissa embeli 300 yen dipasa dengan harga $2,
dan kemudian menjual ke Fed seharga $3, ssehingga mencetak laba $1. Ketika
Fed membeli yen ini dari pialang, dolar yang ia bayar otomartis meningkatkan
jumlah uang beredar. Kenaikan dalam uang jumah uang beredar i ini mnggeser
kurva LM* kekanan, dan menurunkan kurs ekuilibrium. Dalam cara
ini, jumlah uang beredar teruys naik sampai kurs ekuilibrium turun ketingkat
yag diumumkan.
Sebaliknya, anggaplah bahwa ketika Fed mengumukan akan memberlakukan kurs
tetap pada 100 yen per dolar, ekuilibrium adalah 50 yen per dolar. Dalam
kasus ini, pialang bisa meraih laba denngan membeli 100 yen dari Fed seharga
$1 dan menjual yen dipasar seharga $2. Ketika Fed menjual yen, $1 yang ia
terima otomatis menurunkan jumlah uang yang beredar. Penurunan dalam jumlah
uang beredar ini menggeser kurva LM* ke kiri, yang
meningkatkan kurs ekuilibrium. Jumlah uang beredar terus turun sampai kurs
ekuilibrium naik ketingkat yang di umumkan.
Kebijakan Fiskal
Sekarang kita akan mengkaji bagaimana kebijakan
perekonomian mempengaruhi erekonomian terbuka kecill dengan kurs tetap.
Anggaplah pemerintah mendorong pengeluaran domestik dengan meningkatkan
belanja pemerintah atau memotong pajak. Tetpi karen bank sentra siap
mempertukarkan mata uang domestik dan mata uang asing pada kurs tetap,
pialang dengan cepat menanggapi kenaikan kurs ini dengan menjual mata uang
asing ke bank sentral, yang menyebabkan ksfansi moneter otomatis. Kenaikan
jumlah uang beredar ini menggeser kurva LM* kekanan. Jadi,
ekspansi fiskal menurut sistem kurs tetap me ningkatkan pendapatan agregat.
Kebijakan Moneter
Bayangkanlah bank sentral yang beroperasi deengan
kurs tetap berusaha meningkatkan jumlah uang beredar, misalnya dengan membeli
obligasi dari masyarakat apakah yang aka terjadi? Dampak awal dari kebijakan
ini adalah menggeser kurs LM* ke kanan, yang menurunkan
kurs. Tetapi, karena bank sentral bertugas untuk memperdagangkan mata uang
asing dan domestik pada kurs tetap, pialang dengan cepat menanggapi
penurunan kurs dengan meenjual mata uang domestik ke bank sentral, yang
menyebabkan jumlah uang yang beredar dan kurva LM* kembali ke
posisi awalnya. Jadi, kebikan yang biasa dijalankan tifdak berpengaruh
dibawah kurs tetap. Dengan menyepakati kurs, bank sentral meningkatkan
kontrolnya atas jumlsh usng beredar.
Akan tetapi, suatu negara yang menganut kurs tetap bisa menjalankan satu
jenis kebijakan moneter : negara itu bisa memutuskan untuk mengubah tingkat
dimana kurs adalah tetap.pnurunan nilai mata uang disebut devaluasi
(devaluation), dan kenaikan nilainya disebut revaluasi (revaluation). Dalam
model Mundell-Fleming, devaluasi menggeser kurva LM* kekanan :
model itu bertindak sepertikenaikan jumlah mata uang beredar pada sistem kurs
mengambang. Jadi, devaluasi memperbesar ekspor neto dan meningkatkan
pendapatan agregat. Sebaliny, revaluasi menggeser kurva LM* kekiri
mengurangi ekspor neto dan menurunkan pendapatan agregat.
DEVALUASI
ü
Rimsky K. Judisseno(2002:46-47)
Kenaikan hargamata uang asing, US $ misalnya,
terhadap mata uang rupiah kita, disebut dengan peristiwa devaluasi.
Devaluasi terjadi akibat kebijakan moneter yang menetapkan suatu patokan kurs
tetap terhadap mata uang asing. Konsekuensi logis yang harus diambil oleh
suatu negara yang melakukan hal tersebut adalah menjamin tersedianya uang
asing dalam jumlah yang tidak terbatas. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
jika ada permintaan ataupun penawaran uang asing dalam jumlah yang besar.
Jika konsekuensi tersebut tidak dapatdipenuhi oleh
pemerintahan yang bersangkutan dalam hal ini otoritas moneter, maka devaluasi
tidak dapat terelakkan lagi, yaitu menaikkan harga mata uang asing terhadap
mata uang lokal untuk dapat menutupi kekurangan permintaan mata uang asing.
Di Indonesia keadaan ini pernah terjadi yaitu dua kali pada masa orde lama
dan empat kali pada masa orde baru, dengan urutan sebagai berikut:
Masa orde lama:
1.
Tahun 1959, dari Rp. 378 menjadi Rp. 415 per dolar
Amerika
2.
Tahun1965, menarik semua peredaran uang diganti
dengan mata uang baru
3.
Dengan nilai tukar Rp. 1.000uang lama menjadi Rp. 1
uang baru
Masa orde baru:
1.
Tahun 1971, dari Rp. 378menjadi Rp. 415 per dolar
Amerika
2.
Tahun 1978, dari Rp. 415 menjadi Rp. 625 per dolar
Amerika
3.
Tahun 1983, dari Rp. 702 menjadi Rp. 970 per dolar
Amerika
4.
Tahun 1986, dari Rp. 1.354menjadi Rp. 1.644 per
dolar Amerika
5.
ü N. Gregory
Mankiw (2005:211)Negara yang menerapkan devaluasi pulih dengan
cepat dari depresi besar. Nilai mata uang yang lebih rendah menaikkan jumlah
mata uang yang beredaar dan mendorong ekspor dan memperbesar produksi.
Sebaliknya negara-negara yang mempertahankan kurs lama menderita lebih lama
dengan tingkat aktivitas yang rendah.
6.
ü Henry Bustany (2000:72)
Isu devaluasi bagi negara seperti Indonesia sungguh
merupakan hal yang harus diperhatikan terutama bagi perusahaan yang memiliki
faktor-faktor produksi atau penjualan peka terhadap perubahan nilai mata
uang.
ü Ngrumat Bondo
Utomo(2001:257)
Sehari sebelum diumumkan kebijakan devaluasi tahun
1986, pengamatekonomi kenamaan yaitu Prof. Sumitro Djojohadikusumo
mengemukakan pendapatnya kepada para wartawan bahwa pemerintah tidak akan
melakukan devaluasi mengingat bahwa cadangan devisa pada waktu itu cukup
untuk memenuhi kebutuhan impor selama 6 bulan. Pagi harinya pemerintah
ternyata mengumumkan devaluasi, sehingga sejak itu reputasi pemerintah
mengalami kemerosotan. Akibatnya berdasarkan pengalaman, masyarakat mendorong
dolar AS sehingga terjadi rush bila ada tanda-tanda menipisnya cadangan
devisa Bank Indonesia.
Dari “Fixed Exchange Rate ke Managed Floating Exchanged Rate”
Sejak dikeluarkannya kebijakan devaluasi tahun1986,
pemerintah melepaskan sistem kurs devisa tetap dengan menganut sistem
kurs devisa mengambang terkendali. Dengan sistem yang baru ini, kurs
diserahkan pada kekuatan pasar tetapi pemerintah akan campur tangan ternyata
fluktuasi kurs pasar melewati rentang kendali yang ditetapkan. Sejak itu pula
pemerintah merasa tidak perlu lagi mempertahankan kurs devisa rill dengan
melakukan devaluasi secara dadakan melainkan secara rutin dan smoth yaitu
sekitar 5% per tahun, sampai akhirnya digoncang oleh krisis moneter
internasional sejak juli yang lalu.
REVALUASI
ü Yusdianto Prabowo (2004:220-221)
Penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap atau
harta karun dalam akuntansi pada umumnya tidak diperkenalkan. Alasan yang
dikemukakan dalam akuntansi adalah penilaian aktiva yang paling objektif
adalah harga perolehan atau harga pertukaran.
Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan
berdasarkan ketentuan pemerintah khususnya ketentuan perpajakan. Dengan kata
lain, apabila pemerintah memperkenankan revaluasi aktiva tetap maka prinsip
akuntansi akan menerimanya. Misalnya, revaluasi nilai mata uang rupiah
terhadap mata uang asing. Dalam keadaan demikian, menteri keuangan diberi
wewenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva tetap
(revaluasi) di indeksasi biaya dan penghasilan. Selisih antara nilai
revaluasi dengan nilai buku aktiva tetap dibutuhkan dalam rekening modal
dengan nama selisih penilaian kembali aktiva tetap.
ü Erly Suandy (2004:42-43)
Objek revaluasi adalah aset berwujud dalam
bentuk tanah, kelompok bangunan, dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan
untuk dialihkan atau dijual atau bukan barang dagangan. Masalah yang timbul
apakah perusahaan akan melakukan revaluasi secara parsial atau menyeluru?
Revaluasi parsial berarti perusahaan hanya melakukan revaluasi atas sebagian
aset tetap yang ada sesuai pertimbangan.
Bagi perusahaan yang akan melakukan revaluasi perlu
melakukan penghitunganapakah membayar PPh sekarang sebesar 10% itu lebih
menguntungkan dibanding dengan tarif PPh badan sebesar 30%. Aset tetap yang
sudah direvaluasi akan disusut berdasarkan nilai revaluasi.
|
|
KESIMPULAN
|
|
1.
Model Mundell-Fleming adalah model IS-LM untuk
perekonomian terbuka kecil. Model itu menganggap tingkat harga adalah
tertentu (Given) dan kemudian menunjukkan apa yang menyebabkan fluktuasi
dalam pendapatan dan kurs .
2.
Model Mundell-Fleming menunjukkan bahwa kebijakan
fiskl tidak mempengaruhi pedapatan agregat dibawah kurs mengambang. Eekpansi
fiskal menyebabkan mata uang berapresiasi, yang menurunkan ekspor neto dan
menghapus dampak ekspansioner biasa terhadap pendapatan agregat. Kebijakan
fiskal mempengaruhi pendapatan agregat dibawah kurs tetap.
3.
Model Mundell-Fleming menunjukkan bahwa kebijakan
moneter tidak mempengaruhi pendapaatan agregat dibawah kurs tetap. Setiap
upayah untuk memperbesar julah uang beredar akan menjadi percuma, karena jumlah
uang yang beredar harus disesuaikan utnuk menjamin bahwa kurs tetap berada
pada tingkat yang diumumkan. Kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan
agregat dibawah kurrs mengambang.
4.
Jika investor merasa tidak aman memegang assset
dalam sebuah negara, tingkat bunga dinegara itu melbihi tingkat bunga dunia
sebesar premi risiko. Menurut model Mundel-Fleming, kenaikan premi resiko
menyebabkan tingkat bunga naik dan mata uang negara itu terdepresiasi.
5.
Kurs tetap an kusr mengambang, masing-masing
memiliki keunggulan. Kurs mengambang membuat para pembuat kebijakan moneter
bebas mengejar tujuan-tujuan selain stabilitas kurs. Kurs tetap menurunkan
ebagian dari ketidakpastian dalam transaksi bisnis internasional
6.
Devaluasi terjadi akibat kebijakan moneter yang
menetapkan suatu patokan kurs tetap terhadap mata uang asing. Konsekuensi
logis yang harus diambil oleh suatu negara yang melakukan hal tersebut adalah
menjamin tersedianya uang asing dalam jumlah yang tidak terbatas.
7.
Sejak dikeluarkannya kebijakan devaluasi tahun1986,
pemerintah melepaskan sistem kurs devisa tetap dengan menganut sistem
kurs devisa mengambang terkendali.
8.
Objek revaluasi adalah aset berwujud dalam
bentuk tanah, kelompok bangunan, dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan
untuk dialihkan atau dijual atau bukan barang dagangan.
9.
Revaluasi parsial berarti perusahaan hanya melakukan
revaluasi atas sebagian aset tetap yang ada sesuai pertimbangan.
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
|
Nanga, Muana. 2001. Makro Ekonomi, Edisi
Perdana : PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Mankiw, Gregory. N. 2005. Makroekonomi, Edisi Kelima
: Erlangga. Jakarta.
Mankiw,
Gregory N. 2005. Makroekonomi. Penerbit: Erlangga, Jakarta.
Judisseno,
Rimsky K. 2002. Sistem Moneter dan Perubahan Indonesia. Penerbit: Gramedia,
Bandung.
Bundo,
Ngrumat, Utomo. 2001. Krisis Masa Kini dan Orde Lama. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Bustany,
Henry.2000. Operations Research. Penerbit: Erlangga.
Suandy, Erly.
2004. Penerbit: Salemba.
Prabowo,
Yusdiantoro. 20001. Akuntansi Perpajakan Terapan. Penerbit: Grasindo.
|
Rabu, 13 Maret 2013
Sejarah Model Mundel Flemming
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar