Rabu, 13 Maret 2013

Sistem Ketuhanan dalam Zaman Pra Islam



SISTEM KETUHANAN
Di masa pra Islam, orang-orang jahiliyah menganut sebuah agama yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, sementara Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau menganut agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Sebelum kedatangan Islam yang dibawa oleh Muhammad, mayoritas masyarakat bangsa Arab merupakan penyembah berhala, kecuali sebagian kecil menganut agama Yahudi dan Nasrani. Selain penyembah berhala, ada juga yang menyembah matahari, bintang, dan angin. Di antara mereka ada yang atheis, tidak mempercayai Tuhan YME., adanya hari pembalasan, dan tidak mempercayai keabadian jiwa manusia. Setiap daerah dan suku mempunyai dewa dewi (berhala). Pada umumnya, bangsa Arab saat itu menjadikan berhala sebagai sesuatu yang sangat dekat dengan mereka, yang dianggap membimbing dan menentukan kehidupan mereka. Oleh karenanya, masyarakat Arab pada saat itu disebut sebagai penyembah berhala atau paganisme. Hal yang menyebabkan bangsa Arab menyembah berhala,yaitu setiap mereka pergi keluar kota Mekkah, mereka selalu membawa batu yang diambil dari sekitar Ka’bah, mereka menyucikan batu dan menyembahnya dimanapun mereka berada. Lama kelamaan, kemudian berkembang dengan dibuatkan patung yang terbuat dari batu untuk disembah dan orang-orang selalu mengelilinginya [thawaf]. Di antara berhala yang paling dipuja mereka adalah Al-Uzza, Al-Latta,Manah, dan Hubbal. Tidak kurang dari 360 berhala yang ditata disekeliling kabah untuk disembah. Setiap tahun masyarakat Arab datang ke ka’bah untuk melakukan.penyembahan massal terhadap berhala tersebut, bersamaan dengan diselenggarakannya pekan raya yang dikenal dengan Pekan Raya Ukaz.
SISTEM POLITIK DAN HUKUM
Pada umumnya mereka tidak memiliki sistim pemerintahan dan hukum yang ideal, dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Tingkat keberagamannya hampir kembali pada masyarakat primitif yang jauh dari nur-ilahi. Mereka terpecah belah menjadi berbagai suku yang saling bermusuhan sehingga secara politis tidak mengenal sistim pemerintahan pusat yang dapat mengendalikan perpecahan dan permusuhan.Sebagian mereka belum mengenal sistim hukum. Hukum yang berlaku bagaikan hukum rimba, yang kuat menindas yang lemah. Bangsa Arab pra-Islam di sekitar Mekah, khususnya suku Quraisymengembangkan “sistem pemerintahan oligarki” yang membagi-bagi kekuasaan berdasarkan bidang-bidang tertentu. Ada kabilah tertentu yang bertugas menangani masalah peribadatan, ada yang bertugas menangani bidang pertahanan, ada pula yang bertugas dalam pengembangan perekonomian.
ISTEM SOSIAL DAN MORAL
Dalam kondisi sosial dan moral, khususnya yang berkaitan dengan martabat kaum wanita, masyarakat Arab pra-Islam memandang bahwa wanita ibarat barang mainan, binatang piaraan, atau lebih hina. Wanita sama sekali tidak mendapatkanpenghormatan sosial dan tidak memiliki hak apa pun. Derajat wanita pada waktu itumenempati kedudukan yang terendah sepanjang sejarah umat manusia.
           


SISTEM KEBUDAYAAN
Dari segi kebudayaan, masyarakat Arab terkenal mahir dalam bidang bahasa dan syair (sastra). Bahasanya sangat kaya sebanding dengan bahasa bangsa Eropa dewasa ini. Bangsa Arab mengabdikan peristiwa-peristiwa dalam syair yang diperlombakan setiap tahun di pasar seni Ukaz, Majinnah, dan Zu Majaz. Bagi yang memiliki syair yang bagus, ia akan mendapat hadiah, dan mendapatkan kehormatan
SISTEM PENDIDIKAN
Lingkungan bangsa Arab sebelum Islam adalah padang pasir yang tandus perjalanan kehidupan sepanjang hari dan malam, tidak menemukan suatu kehidupan lain. Sesungguhnya lingkungan seperti ini, membuat bangsa yang bermukim disitu,jauh dari ilmu pengetahuan dan peradaban, karena diantara factor yang terpenting dalam penyebaran ilmu pengetahuan adalah kemudahan transportasi, dan banyaknya dinamika serta komunikasi yang tetap dengan dunia luar. Demikianlah keadaan bangsa Arab di zaman jahiliah, tiada bagi mereka satupun dalam ilmu pengetahuan,bahkan tiada satupun kehidupan yang rasional tampak disana. Akan tetapi yang berkembang dikalangan mereka ialah kebodohan, dan yang merata bagi mereka adalah kebutaan dalam tulis baca. Adapun pengetahuan mereka yang umum dikenal adalah khurafat [cerita bohong] dan dongeng-dongeng. Tidak mengherankan bahwa wahyu [ayat] yang pertama diturunkan itu adalah suatu perintah yang jelas dan tegas kepada Nabi, agar beliau membaca, padahal beliau tidak dapat membaca. Ayat itujuga berseru agar beliau belajar menulis dengan kalam [pena], padahal beliau berada dalam lingkungan yang belum pernah belajar atau mengajar. Islam adalah agama ilmudan kesejahteraan. Pendidikan islam pada masa pertumbuhan,pada masa perkembangannya, juga pada masa-masa yang berikutnya, memiliki dua sasaran, yaitu :
1. kepada pemuda, yaitu pewarisan ajaran islam kepada generasi muda (sebagai generasi penerus) kebudayaan islam dengan pendidikan islam. 2. kepada masyarakat lain yang belum menerima ajaran islam, artinya penyampaian ajaran islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat yang belum dan baru menerima ajaran islam yang lazim disebut dengan dakwah islam. Tujuan dari dakwah ini tak lain adalah agar mereka menerima ajaran islam sebagai suatu sistem kehidupan.
SISTEM PEREKONOMIAN
Secara geografis dan demografis, wilayah Arab merupakan daerah gersang dan mata pencaharian sebagian besar penduduknya adalah beternak. Kelompok bangsawan menguasai hubungan perdagangan domestik dan luar negeri. Sistim perekonomian didominasi oleh kaum aristokrat yang konglomerat. Masyarakat pada umumnya miskin dan menderita, sebagai akibat dari kesenjangan sosial ekonomi yang melahirkan ketidakadilan dan penindasan. Keberhasilan Mekah menjadi pusat perdagangan internasional, terwujud karena kejelian Hasyim, tokoh penting suku Quraisy yang merupakan kakek buyu tMuhammad saw, dalam mengisi kekosongan peranan suku bangsa lain di dalam bidang perdagangan di Mekah sekitar abad ke enam masehi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar