Kamis, 05 Juni 2014



MAKALAH
AKAD HAWALAH

Disusun guna memenuhi tugas keloompok:
Mata kuliah                      : Manajement Perbankan Syari’ah
Dosen Pengampu             : Rinda Asytuti, Hj M. Si

    Oleh :
                  Mohamad Aji Aflakhudin      
                          (2013112004)
  


JURUSAN EKONOMI SYARI’AH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) PEKALONGAN
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Melihat dari berbagai kontrak perjanjian yang dilakukan oleh masyarakat maka,  perjanjian yang berdasarkan syariah sangat menarik untuk dipelajari dan didalami dasar-dasar prinsipnya. Di masyarakat mungkin sudah sangat biasa dengan istilah sewa menyewa, jual beli, gadai, serta hutang piutang. Dalam produk perbankan syariah sudah sangat jelas bahwa produk-produk yang berdasarkan prinsip tersebut merupakan produk yang sudah menjadi cirri dari sebuah perbankan, terutama perbankan syariah.
Dalam bab ini kami akan mengupas tentang salah produk perbankan syariah yang berdasarkan prinsip hutang piutang dan merupakan produk jasa di perbankan syariah. Kami akan menjelaskan  tentang  produk hawalah atau biasa disebut dengan pengalihan hutang. Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang merupakan manifestasi dari semangat ayat tersebut.         
Untuk lebih jelasnya akan kami sampaikan pada bab selanjutnya yang pembahasanya akan lebih rinci dan mendalam.

B.     RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dan dasar hukum Al-Hawalah ?
2. Apa saja rukun dan syarat sah Al-Hawalah ?
3. Apa saja manfaat dari akad Al-Hawalah ?
4. Bagaimana aplikasi Al-Hawalah dalam perbankan?
5. Bagaimana berakhirnya akad Al-Hawalah ?

C.    TUJUAN MAKALAH
1.      Menjelaskan tentang pengertian dan dasar hukum Al-Hawalah.
2.      Menjelaskan tentang rukun dan syarat sah Al-Hawalah.
3.      Menjelaskan tentang jenis-jenis Al-Hawalah.
4.      Menjelaskan tentang aplikasi Al-Hawalah dalam perbankan.
5.      Menjelaskan tentang manfaat dan berakhirnya akad Al-Hawalah.
     



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian
Hawalah bermakna perpindahan. Hawalah adalah pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya atau dalam istilah islam merupakan pemindahan beban hutang dari muhil ( orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih atau orang yang berkewajiban membayar hutang[1].                                                                                   
Menurut Zainul Arifin, Hawalah adalah akad pemindaian utang/piutang suatu pihak kepada pihak lain. Dalam hal ini ada tiga pihak, yaitu pihak berutang (muhil atau madin), pihak yang memberi utang ( muhal atau da’in ), dan pihak yang menerima tambahan ( muhal ‘alaih).
Contoh gambaran sederhananya adalah A ( muhal) memberi pinjaman kepada B (muhil), sedangkan B masih mempunyai piutang pada C ( muhal ‘alaih ). Begitu B tidak mampu membayar utangnya pada A, ia mengalihkan beban utang tersebut kepada C. Dengan demikian, C yang harus membayar utang B kepada A, sedangkan utang C kepada B dianggap lunas/selesai[2]. Transaksi Hawalah ini dibolehkan dalam islam dengan mengambil landasan  dari hadist nabi Muhammad SAW.
  1. Landasan Hukum Hawalah Sebagai Produk Perbankan Syariah
1.      Landasan Syariah
Landasan Syariah atas hawalah dapat dijumpai dalam sunah dan ijmak. Dalalm hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (dihiwalahkan) kepada orang yang mampu/kaya, terimalah hiwalah itu”.
Pada hadist ini tampak bahwa Rasulullah memberitahukan kepada orang yang yang menghutangkan, jika orang yang berhutag menghiwalahkan kepada orang yang kaya/mampu , hendaklah ia menerima hiwalah tersebut dan hendaklah ia menagih kepada orang yang menghiwalahkan ( muhal ‘alaih ). Dengan demikian, haknya dapat terpenuhi.
Sedangkan secara ijmak telah tercapai kesepakatan ulama tentang kebolehan hiwalah ini.
2.      Landasan Hukum Positif
Hawalah sebagai salah satu produk perbankan syariah dibidang jasa telah mendapatkan dasar hukum yang kokoh melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Dalam tataran teknis Hawalah diatur dalam ketentuan Pasal 36 huruf c poin   kedua PBI No.6/24/PBI/2004 tetang bank umum yang melaksanakan Kegiatan Berdasarkan Prinsip Syariah, yang intinya menyatakan bahwa hak wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian dalam kegiatan usahanya yang meliputi melakukan pemberian jasa pelayanan perbankan berdasarkan akad Hawalah[3].
  1. Jenis-jenis Hawalah
Mazhab Hanafi membagi al-hawalah dalam beberapa bagian yaitu ditinjau dari segi objek akad. Al-Hawalah dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1.      Hawalah al-Haq ( pengalihan hak piutang ), yaitu apabila yang dialihkan itu merupakan hak untuk menuntut pembayaran utang.
2.      Hawalah ad-dain ( pengalihan utang ), apabila yang dialihkan itu adalah kewajiban untuk membayar utang.
Kemudian ditinjau dari jenis akad, Hawalah dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1.      Hawalah mutlaqah, yaitu seseorang memindahkan hutangnya kepada orang lain dan tidak mengaitkan dengan hutang yang ada ada orang itu. Menurut ketiga mazhab lain jika muhal ‘alaih tidak punya hutang kepada muhil, maka hal ini sama dengan kafalah, dan ini harus dengan keridhaan tiga pihak.
Sebagai contoh : A berhutang kepada B sebesar 5juta. Kemudian A mengalihkan utangnya kepada C, sehingga c berkewajiban membayar utang A kepada B, tanpa menyebutkan bahwa pemindahan hutang tersebut sebagai ganti rugi dari pembayaran utang C kepada A.
Dengan demikian hawalah al-mutlaqah hanya mengandung hawalah ad-dain karena terjadi hanya utang A kepada B dipindahkan menjadi hutang C ke B.
2.      Hawalah muqoyyadah, seseorang memindahkan utang dan mengaitkan dengan piutang yang ada padanya. Inilah hawalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama.
Sebagai contoh : A memberikan piutang kepada B sebesar 3 juta, sedangkan B memberi piutang kepada C sebesar 3 juta. Kemudian B mengalihkan haknya untuk menuntut pitangnya yang berada pada C kepada A, sebagai ganti pembayaran utang B kepada A.
Dari contoh diatas, al-hiwalah muqoyyadah pada satu sisi merupakan hiwalah al-haq karena mengalihkan hak menuntut piutangya dari C ke A
 ( pengalihan hak). Pada sisi lain, al-hiwalah muqoyyadah sekaligus merupakan hiwalah ad-dain karena kewajiban B kepada A dialihkan menjadi kewajiban C kepada A.
  1. Implementasi Akad Hawalah dalam Praktik Perbankan Syariah
Meskipun dalam fikih pemindahan hutang secara mutlak atau hiwalah muthlaqah(pemindahan hutang tanpa menyebut hutang yang dimiliki sebagai ganti rugi) dibolehkan, dalam dunia komersial hal ini kemungkinannya kecil dilaksanakan mengingat tingginya risiko pembiayaan. Karenanya, yang dapat dilksanakan adalah pemindahan hutang secara terikat atau hiwalah muqoyyadah ( pemindahan hutang atas hutang yang dimiliki sebagai gantinya ) karena kejelasannya dan risiko yang dapat dipagari.
Akad hawalah dipraktikan di Perbankan Syariah terhadap beberapa produk sebagai berikut:
A.    Factoring atau anjak piutang, dimana para nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank, bank lalu membayar piutang tersebut kemudian bank menagihnya dari pihak ketiga itu.
B.     Post-dated check, dimana bank bertindak sebagai juru tagih, tanpa membayarkan dulu piutang tersebut[4].
Hawalah sebagai suatu cara untuk mendapatkan fresh money bagi pihak klien/nasabah juga tidak luput dari risiko, terutama dari pihak bank. Adapun risiko yang harus diwaspadai oleh pihak bank syariah dari sebuah kontrak hawalah adalah adanya kecurangan nasabah dngan memberi invoice palsu atau wanprestasi (ingkar janji) unuk memenuhi kewajiban hawalah ke bank.
  1. Manfaat Hawalah
1.      Memungkinkan peyelesaian hutang dan piutang dengan cepat dan simultan
2.      Tersedianya talagan dana untuk dana hibah yang membutuhkan.
3.      Alat menjadi salah sat fee-based income/ sumber pendapatan non pembiayaan bagi bank syariah[5].
F.     Rukun  Hawalah
1.      Muhil (peminjam)
2.      Muhal (pemberipinjaman)
3.      Muhal ‘alaih (penerimahawalah)
4.      Muhalbihi (utang)
5.      Sighat (ijabqabul)

G.    Syarat  Hawalah
1.      Muhil : orang yang berakal  dan  baligh.
2.      Muhal : Orang yang berakal  dan  sudah  baligh,dan  ada  persetujuan  dan  kerelaanya  untuk  menerima  hawalah  dalam  majlis AKAD.
3.      Muhal ‘alaih,syarat  yang  ada  atas  diri  muhal  atau   muhtal, juga  berlaku  pada  diri  muhal.
4.      Muhalbih  ,harus  berupa  utang  dan  bersifat  mengikat.

H.    Berakhirnnya Hawalah
Akad hawalah akan berakhir ketika terjadi pembatalan,dan muhal memiliki hak untuk melakukan penagihan kembali kepada muhil .Menurut hanafiyah ketika muhal ‘alaih mengalami kebangkrutan ,maka akad dinyatakan berakhir dan hak penagihan beralih kepada muhil. Menurut   Hana Bala, Syafi’iyah  dan  Malikiyah, ketika  akad  hawalah  telah  dilakukan   secara  sempurna  hak  penagihan  dan  beban  utang  tidak  bias  dialihkan  kembali  ke  pada  muhil.
Jika  muhal  ‘alaih  mengalami  kebangkrutan  dan  muhal  tidak  diberitahu  oleh  muhil, maka  ia  tetap  berhak  melakukan  penagihan  terhadap  muhil. Karena  ia  diibaratkan  membeli  sesuatu   yang  bersifat  majhul  (tidak  diketahui) dan  mengandung  gharar  (ketidak  pastian) (zuhailah, 1989, V, hal. 173-177).Apabila kontrak  hiwalah telah terjadi, maka tanggungan muhil menjadi gugur. Jika muhal’alaih bangkrut (pailit) atau meninggal dunia, maka menurut pendapat Jumhur Ulama, muhal tidak boleh lagi kembali menagih hutang itu kepada muhil. Menurut Imam Maliki, jika muhil “menipu” muhal, di mana ia menghiwalahkan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa (fakir), maka muhal boleh kembali lagi menagih hutang kepada muhil.
i.                    Aplikasi Hawalah Dalam Institusi Keuangan

Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hiwalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan piutang. Untuk mengantisipasi resiko kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berutang. Katakanlah seorang supplier bahan bangunan menjual barangnya kepada pemilik proyek yang akan dibayar dua bulan kemudian. Karena kebutuhan supplier akan likuiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutangnya. Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.




BAB III
      PENUTUP


KESIMPULAN :
Akad hiwalah telah dapat diterapkan dalam Institusi Keuangan Islam di Indonesia. Fatwa untuk akad ini telah dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional – Majelis Ulama Indonesia NO: 12/DSN-MUI/IV/2000. Hal ini akan mendukung perkembangan produk-produk keuangan Islam dengan akad Hiwalah, yang mana akan mendukung pula perkembangan perbankan dan investasi Syariah di Indonesia






















[1] Prof. Dr. Abdul Ghofur anshori, S.H. M.H.,Perbankan syariah Di Indonesia,(Yogyakarta:Gadja mada University Press,2007)hal.146
[2] H. Karnaen A.Perwataatmadja.Drs.MPA dan H. Mhammad Syafi’i Antonio,M.Ec.,Apa dan Bagaimana BankIslam,(Yogyakarta:Dana Bhakti Wakaf,1992)hal.39
[3] Ibid,Prof.Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H, hal.147
[4] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek cet.1,(Jakarta:Gema Insani Press,2001) hal.
[5]Ibid, Muhammad Syafi’i Antonio, hal.